PEMILIHAN
PRESIDEN IRAN
Pemilihan Presiden
iran Juni mendatang, hanya akan menJadi aJang kontes bagi Pendukung kelomPok
konservatif. dua calon dari kelomPok berseberang, didiskualifikasi.
Pengumuman
Selasa itu seperti yang diduga. Dewan Wali yang berwenang menyeleksi calon
Presiden Iran mendiskualifikasi mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani dan
Esfandiar Rahim Mashaei. Tak ada alasan yang diberikan atas pencoretan dua
calon potensial itu. Tapi banyak yang mafhum. Ini adalah langkah kelompok konser-
vatif untuk mempertahankan pengaruhnya. Pemilu Juni mendatang pun hanya
akan menjadi kontes calon dari kelompok konservatif. Delapan calon yang lolos,
didominasi pendukung pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Harapan kelompok reformis kini tinggal
tertumpu pada Mohammad Reza Aref. Tiga nama diunggulkan, yakni Saeed
Jalili, yang sering memimpin tim negosiator nuklir Iran; Ali Akbar Velayati,
penasihat kebijakan luar negeri Khamenei; Mohammad Baqer Qalibaf, Wali Kota
Teheran. Sedangkan empat calon lainnya Mohsen Rezaie, mantan Komandan
Garda Revolusi; Gholam Ali Haddad Adel, orang dekat Khamenei; Hassan Rohani,
mantan negosiator nuklir Iran; serta Mohammad Gharazi, mantan Menteri
Telekomunikasi yang dinilai hanya sebagai pelengkap. “Semua calon yang
lolos adalah loyalis Ayatollah Khamenei atau mereka yang tak layak.
Ini lebih sebagai seleksi presiden
ketimbang sebuah pemilihan,” ujar Alireza Nader, analis RAND Corporation.
Sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei bisa saja menganulir keputusan Dewan Wali. Tapi, analis memperkirakan
Khamenei akan membiarkan semua ini. Pencoretan Rafsanjani dinilai hanyalah
taktik Khame- nei mencegah terulangnya ‘tragedi’ 2009. “Risiko men-
diskualifikasi Rafsanjani lebih ringan. Membiarkannya bertarung, meraih dukungan,
lantas coba mengubahnya akan lebih berisiko,” ujar Yasmin Alem,
seorang analis Iran yang berbasis di
AS. Khamenei tampaknya tak ingin kejadian empat tahun lalu terulang. Saat
itu hasil pemilu disambut protes besar-besaran. Sebuah penolakan terburuk
sepanjang sejarah berdirinya Republik Islam itu. Maka majunya Rafsanjani,
dinilai sebagai ancaman. Apalagi jika ia sampai terpilih. Khamenei yang menggantikan
Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 tak ingin itu terjadi. Ia ingin menggenggam
semua kekuasaan di negeri para mullah itu.
Khamenei juga tak mau, ada nama baru
mendulang popularitas seperti yang diraih Ahmadinejad, hingga mengancam peng-
aruhnya. Namun sesungguhnya, pemilu kali ini bukan hanya pertarungan
antara kelompok reformis dan kelompok konservatif di Iran. Internal kelompok
konservatif juga terpecah. Pendukung Khamenei yang menginginkan kekuasaan yang
lebih besar di pemerintahan harus menghadapi perlawanan dari pendukung Ahmadinejad. Pemilu
ini juga berlangsung saat kondisi sulit, akibat embargo dari negara barat
terkait proyek nuklir Iran.
Rakyat Iran yang mulai lelah butuh pemimpin
yang bisa mengubah semua ini. Pemimpin yang bisa meng- ubah kebijakan nuklir
dan luar negeri, yang selama ini dikontrol langsung oleh Khamenei. Rafsanjani,
yang digadang kelompok reformis sejak 2009, menjadi tumpuan harapan itu.
Makanya ketika mantan presiden Iran (1989-1997) itu bersedia maju, langsung
menumbuhkan antusiasme. Figur kunci yang mendampingi Khomeini, hingga pendiri
Republik Islam Iran itu meninggal pada 1989 ini, dinilai akan mampu melawan
kelompok ultr-konservatif. Masalahnya, nama salah satu pilar revolusi ini
telanjur masuk dalam daftar hitam kelompok ultra-konservatif. Ia dicap sebagai
'pembangkang' sejak memimpin demo besar-besaran pada 2009. Dua anaknya bahkan
harus meringkuk di penjara bersama ratusan pendukung reformasi lainnya.
Sedangkan Mashaei adalah tangan kanan
Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Keduanya kian dekat, setelah salah satu putri
Mashaei menikah dengan putra su- lung Ahmadinejad. Ahmadinejad yang tak boleh
maju kali ini, terang-terangan mendukung Mashaei. “Mashaei berarti Ahmadinejad,
dan Ahmadinejad berarti Mashaei,” ujarnya sering kali. Namun barisan garis
keras menuduh Mashaei sebagai pemimpin yang membahayakan Negara Islam Iran. Ia
dituduh yang melemahkan pemerintahan Islam. Makanya ia tak lolos seleksi
sebagai capres.
Pencoretan Rafsanjani dan Mashaei memicu
protes. Tapi Rafsanjani menyatakan tak
akan melawan. Sedangkan Mashaei meminta pendukungnya tetap tenang. Tapi ia tak
mau tinggal diam. “Saya memper- timbangkan untuk mengajukan resolusi ke
pemimpin tertinggi,” ujarnya seperti dikutip Fars News Agency.
No comments:
Post a Comment