Tuesday, March 8, 2016

SEPERTI APA PEMILIHAN PRESIDEN IRAN?



PEMILIHAN PRESIDEN IRAN

Pemilihan Presiden iran Juni mendatang, hanya akan menJadi aJang kontes bagi Pendukung kelomPok konservatif. dua calon dari kelomPok berseberang, didiskualifikasi.

   Pengumuman Selasa itu seperti yang diduga. Dewan Wali yang berwenang menyeleksi calon Presiden Iran mendiskualifikasi mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani dan Esfandiar Rahim Mashaei. Tak ada alasan yang diberikan atas pencoretan dua calon potensial itu. Tapi banyak yang mafhum. Ini adalah langkah kelompok konser- vatif untuk mempertahankan pengaruhnya.  Pemilu Juni mendatang pun hanya akan menjadi kontes calon dari kelompok konservatif. Delapan calon yang lolos, didominasi pendukung pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
    Harapan kelompok reformis kini tinggal tertumpu pada Mohammad Reza Aref.  Tiga nama diunggulkan, yakni Saeed Jalili, yang sering memimpin tim negosiator nuklir Iran; Ali Akbar Velayati, penasihat kebijakan luar negeri Khamenei; Mohammad Baqer Qalibaf, Wali Kota Teheran.   Sedangkan empat calon lainnya Mohsen Rezaie, mantan Komandan Garda Revolusi; Gholam Ali Haddad Adel, orang dekat Khamenei; Hassan Rohani, mantan negosiator nuklir Iran; serta Mohammad Gharazi, mantan Menteri Telekomunikasi yang dinilai hanya sebagai pelengkap.  “Semua calon yang lolos adalah loyalis Ayatollah Khamenei atau mereka yang tak layak.
     Ini lebih sebagai seleksi presiden ketimbang sebuah pemilihan,” ujar Alireza Nader, analis RAND Corporation.  Sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei bisa saja menganulir keputusan  Dewan Wali. Tapi, analis memperkirakan Khamenei akan membiarkan semua ini. Pencoretan Rafsanjani dinilai hanyalah taktik Khame- nei mencegah terulangnya ‘tragedi’ 2009. “Risiko men- diskualifikasi Rafsanjani lebih ringan. Membiarkannya bertarung, meraih dukungan, lantas coba mengubahnya akan lebih berisiko,” ujar Yasmin Alem, 
    seorang analis Iran yang berbasis di AS.  Khamenei tampaknya tak ingin kejadian empat tahun lalu terulang. Saat itu hasil pemilu disambut protes besar-besaran. Sebuah penolakan terburuk sepanjang sejarah berdirinya Republik Islam itu.  Maka majunya Rafsanjani, dinilai sebagai ancaman. Apalagi jika ia sampai terpilih. Khamenei yang menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 tak ingin itu terjadi. Ia ingin menggenggam semua kekuasaan di negeri para mullah itu.  
   Khamenei juga tak mau, ada nama baru mendulang popularitas seperti yang diraih Ahmadinejad, hingga mengancam peng- aruhnya.  Namun sesungguhnya, pemilu kali ini bukan hanya pertarungan antara kelompok reformis dan kelompok konservatif di Iran. Internal kelompok konservatif juga terpecah. Pendukung Khamenei yang menginginkan kekuasaan yang lebih besar di pemerintahan harus menghadapi perlawanan dari pendukung Ahmadinejad. Pemilu ini juga berlangsung saat kondisi sulit, akibat embargo dari negara barat terkait proyek nuklir Iran.
    Rakyat Iran yang mulai lelah butuh pemimpin yang bisa mengubah semua ini. Pemimpin yang bisa meng- ubah kebijakan nuklir dan luar negeri, yang selama ini dikontrol langsung oleh Khamenei. Rafsanjani, yang digadang kelompok reformis sejak 2009, menjadi tumpuan harapan itu.  Makanya ketika mantan presiden Iran (1989-1997) itu bersedia maju, langsung menumbuhkan antusiasme. Figur kunci yang mendampingi Khomeini, hingga pendiri Republik Islam Iran itu meninggal pada 1989 ini, dinilai akan mampu melawan kelompok ultr-konservatif. Masalahnya, nama salah satu pilar revolusi ini telanjur masuk dalam daftar hitam kelompok ultra-konservatif. Ia dicap sebagai 'pembangkang' sejak memimpin demo besar-besaran pada 2009. Dua anaknya bahkan harus meringkuk di penjara bersama ratusan pendukung reformasi lainnya. 
    Sedangkan Mashaei adalah tangan kanan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Keduanya kian dekat, setelah salah satu putri Mashaei menikah dengan putra su- lung Ahmadinejad. Ahmadinejad yang tak boleh maju kali ini, terang-terangan mendukung Mashaei. “Mashaei berarti Ahmadinejad, dan Ahmadinejad berarti Mashaei,” ujarnya sering kali. Namun barisan garis keras menuduh Mashaei sebagai pemimpin yang membahayakan Negara Islam Iran. Ia dituduh yang melemahkan pemerintahan Islam. Makanya ia tak lolos seleksi sebagai capres.
    Pencoretan Rafsanjani dan Mashaei memicu protes. Tapi Rafsanjani  menyatakan tak akan melawan. Sedangkan Mashaei meminta pendukungnya tetap tenang. Tapi ia tak mau tinggal diam. “Saya memper- timbangkan untuk mengajukan resolusi ke pemimpin tertinggi,” ujarnya seperti dikutip Fars News Agency.

No comments:

Post a Comment