Gabungan Anak Mama, Gabungan Anak Mushola,
Gabungan Anteng Merdeka,
Hai Kawan & Krabat ku semua kesempatan kali ini saya ingin
berbagi cerita, cerita tentang masa lalu kami sewaktu muda banget, tapi buka
berarti sekarang sudah tua loh!,,, alkisah di medio tahun 2000 an tepatnya
tahun 2002.
Kami punya kelompok gank dengan Nama GAMMA, sebelumnya saya ceritakan
dulu tempat tinggal kami. Desa tempat tinggal kami Kalibening kecamatan
kalibening Kabupaten Banjarnegara. Terletak di sebelah utara kabupaten
Banjarnegara berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan,jadi dekat dengan tapal
batas Desa kalibening sekitar 3 km saja jaraknya dengan perbatasan. Wilayahnya terdiri
atas pegunungan denganhawa yang sangat sejuk alias dingin.
Kembali ke Genk kami, Basecamp tempat nongkrong kami di rumah salah
satu anggota yang bernama Sukron Hidayat, salah satu alasan jadi basecamp karena
factor disana tempat main PlayStation (PS), yang pada saat itu lagi ngetren
digandrungi anak-anak sampai anak muda. terletak di tengah-tenga kampong jadi
mudah terjangkau, rumahnya juga luas”omber kalo orang jawa bilang. Anggota kami
tak terhitung dengan jari tangan, kami juga tidak pernah mendatanya.
Salah satu identitas kami dan mungkin satu satunya adalah kaos
seragam warna biru dongker, dengan lengan ¾, bertulisakan GAMA, the Young
Generation, kami itu kaos kebesaran kami, dipakai bebas dipakai kapan saja,
terutama saat ada kegiatan bersama. Kami membuat kaos sejumlah kaos kira-kira
20 an biji, buat anggota.Aggota komunitas kami tedak jelas sih, karena ga ada syarat dan
ketentuan untuk itu, wong kami berkelompok hanya kelompok- kelompokan berdasarkan
ikatan, batin cieee,,,batin, ikatan pertemanan yang kenta saja maksudnya rata
rata usia kami saat itu 17-25 tahun, dengan status bujang-bujang. Ynag sedang
mencari jati diri. Tapi ada juga teman yang sudah menikah ikut nimbrung, gak
masalah juga kali
Nah sekarang cerita tentang kegiatan kami, kebiasan bareng kami ya kebanyakan jagongan hampir tiap
malam di rumah saudara sohibul Bait Sukron Hidayat. Meskipun itu tempat rental
PS tapi uniknya kami-kami ini bukan pelanggan PS Sukron, malah justru
kebanyakan anggota kami jarang malah hamper tidak pernah main PS, saya sendiri
jarang main dan tidak lihai serta kurang tertarik main PS. Kami sekedar ngumpul
bareng nonton TV sambil ngobrol ngalor-ngidul bareng, seringkali dibumbui
msaling meledek, sailing pancing bersilat lidah.
Gayeng dalam obrolan, kami para bujang setengah mapan, atau menuju
mapan meskipun latar belakang diantara kami bermacam macam,dan juga usia kami
yang berfariasi. Ada yang sedang Kuliah di solo, tetapi kalo pulang kampong pasti
ngumpul bareng, ada yang baru pulang dari perantauan Jakarta, kebanyakan sih berdagang,
ada yang jualan Baju, ada yang jualan, ada yang jualan sandal, ada yang jualan
sembako, ada yang jualan elektronik, soal pendidikan mayoritas lulusa SMA Muhammadiyah
Kalibening, ada yang lulusa Pondok pesantren, saya sendiri waktu itu baru lulus
kuliah di Yogyakarta.
Aktifiatas seru bersama kami yang sering adalah Hiking atau jalan -
jalan ke suatu tempat entah gunung, curug/air terjun, hutan pokoknya tempat
yang indah di sekitar kami. Sudah banyak tempat kami kunjungi, biasanya saat
hiking kita urunan/patungan untuk makan bersama, seperti buat beli ayam buat di
panggang di tempat tujuan hiking kami, atau di puncak gunung. Saat kita hiking Kita
bawa bekal ayam, bumbu masak, serta alat-alat seadanya, dengan modal nekat tapi
penuh semangat.
Kali ini yang saya ceritakan saat kami jalan ke puncak gunung Wadas
putih, lokasinya di dusun ndeles dukuh sawangan, desa sirongge kecamatan pandanarum,
sebelah barat desa kami Kalibening. Jaraknya kira- kira 18 km dari kalibening. Melewati
hutan dan beberapa kampong, sepanjang perjalanan kami bersuka-ria dengan canda,
mengurangi rasa lelah.
Perjalanan sampai kampong terakhir berjalan kaki kami terlewati
dengan mudah. Tanpa ada insiden karena tidak ada hambatan. Tantanganya standar
di pegunungan ya jalanya naik turun. Ditempuh
sekitar 1 jam perjalanan. Kami berangkat dari kalibening jam 9 pagi sampai di
dusun ndelas jam 10. Sebagai anak muda yang baik hati, rajin sholat, rajin
mengaji dan suka menabung ciat –ciat ,,,,,dalam perjalanan bila bertemu dengan orang
atau warga kami selalu menyapa dengan sopan. Dan orang yang kita sapapun
seperti merasa dihormati.Biasanya kita sapa dengan bahasa jawa monggo pak,
Monggo mak.
Tantangan levelnya mulai naik , Karena medan yang harus kita lewati
mulai berat dengan jalan setapak menanjak, ye namanya juga naik gunung. Jalan berbatu
dan kerikil, melintasi tebing di atas jurang, perlu kehati-hatian. Sebelum sampai
puncak gunung Bagi kami itu masih mudah Karena kami sejak kecil kebanyakan
sudah terbiasa naik gunung-gunung. Karena kami anak gunung maksudnya empat
tinggal kami ya di pegunungan tengah-tengah jawa, yaitu pegunungn Dieng.
Perjalanan hampir sampai puncak , disini tantangan mulai menghadang,
teman kami ada yang gayanya sok- sok jadi musisi ada bawa gitar segala, alamak
ke gunung bawa gitar kang!. Ya rasakan sendiri rasanya, orang inisiatif dia
sendiri yang mau, yah tapi kita teman bro ada solidaritas antar teman satu gank
Gamma gitu loh. Ada jalan yang sangat curam, bukan jalan si aslinya. Lah ini
kan hampir di puncak gunung. Kadang kita mesti “bercantikan” salah satu teman
naik dulu selanjutnya mengulurkan tangan tuk membantu menarik teman yang ada di
bawah.
Tersangkut ranting, terkantuk akar pohon, harus menyelip atau
menunduk disela – sela pohon, itu tantangan yang harus dilewati sebelum sampai
puncak. Jaga ritme, atur nafas, bekerjasama dan hati-hati itu strategi kami,
sambil sesekali istirahat melepas lelah, sabar dan terus berjuang sebentar lagi
sampai puncak men.”meh tekan” meh tekan itu kata katab ajaib pemicu semangat
kami.
Tantangan demi tantang terlewati, sampai juga di puncak wadas putih,
waow pemandangan yang indah di depan mata. tak ada pohan - pohon besar di
puncak gunung wadas putih. Yang ada rumput- rumput ilalang. Ada juga yang rada
aneh juga sih. Gak aneh gimana di suatu pojok rerumputan ada semacam lorong
atau lobang berdiameter 40 an cm, kami hanya berani mendekati mulut lorong horizontal
itu, kami tak ada yang berani macam-macam, sebenarnya kami penasaran juga sih,
kami hanya menebak – nebak mungkin itu jalan lewat binatang yang ada tinggal di
gunung ini.
Saatnya menikmati puncak, ada yang liat- liat pemandangan sekeliling gunung,
ada yang main gitar nyanyi0nyanyi. Terus ini yang dinanti apalagi kalo bukan
makan-makan , saatnya bakar ayam, semunya beraksi bekerja sama sesuai naluri
masing-masing ada yang cari kayu terus buat api, ada yang meracik bumbu,garam,kecap,
saos, cabai,bawang,brambang dan kawan-kawan, ada yang memanggang ayam
sebelumnya ayam sudah dipotong dan dibersihkan bulunya di dari rumah, jadi
diatas tinggal ditusuk terus di panggang di atas api. Nasi juga bawa. Eat time,,,waktunya
makan. Wah lahapnya. Lezaaaat, dalam
sekejap ludes sudah ayam dan nasinya. Perut tersa kenyang
Pemandangan yang paling indah nan unik di Gunung wadas putih itu ya. puncak
yang berwarna putih bila dilihat dari bawah seperti batu wadas. Makanya dinamakan
gunung Wadas putih Dari puncak Setelah puas menikmati puncak dengan keindahanya kami beranjauk turun dan
pulang. Selamat Sampai rumah masing-masing
Itu tadi satu cerita petualangan kami, masih banyak lagi cerita ynag
lain, ada yang, seru, konyol, cerita menyenagkan yang sedi –sedih juga ada. Akan
saya ceritakan di lain waktu ya
Sedikit saya singgung
kenapa gank kami dinamakan Gamma
Sebenarnya itu nama asal
saja, kebetulan pas dirasa enak disebut, bagi kami sendiri punya beberapa makna
Yaitu :
1. GAbungan
Anak MAma
2. GAbungan
Anak MusholA
3. GAbungan
Anak Mangane Akeh
4. GAbungan
Anteng MerdekA
Tentang nama Akan ada tulisan
tersendiri untuk membahasnya. Lain waktu ya
Sampai Jumpa !!!

No comments:
Post a Comment